Temukan

Minggu, 01 Februari 2015

Rangkuman Tweet Broadcast FLP Malang


FLP Malang ialah salah satu wadah penting yang penuh kenangan: tempatku tumbuh dan berkembang sebagai mahasiswa dan penulis saat masih kuliah dulu. Tapi kini aku sudah tak pernah ikut kongkow karena kesibukan kerja dan kuliah. Bahagia rasanya mereka masih tetap menganggapku keluarga. Berikut hasil wawancara tweet broadcast @flpmalang mengenai proses kreatifku.
Timeline Broadcast
16 November 2014
Semangat berkarya, bermakna, & berarti. Intip tips nulis di: http://fahrul-khakim.blogspot.com  "@flpmalang: @fahrul_khakim betul betul betul"
nunggu oprec @flpmalang mimpi 6 tahun yg lalu akan segera terealisasikan :)
Dengan senang hati^^ RT"@flpmalang: Terima kasih kepada @fahrul_khakim untuk sharingnya, mudah-mudahan jadi inspirasi kita semua. Wassalam."
The power of nothing to lose. Tekad & komitmen itu yg utama RT"@flpmalang: Doi pun yakin bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia."
Belajar berkarya, organisasi & aktualisasi diri cc: @ukmpenulis "@flpmalang: atmosfir untuk terus berjuang dan merupakan wadah utk belajar."
Ya, apalagi aku lebih suka nulis sastra realis :) RT"@flpmalang: Semua itu memudahkan doi untuk menulis adegan natural."
Jalan2 itu rekreasi sekaligus riset. Asal jangan lupa ditulis :) RT"@flpmalang: Jalan-jalan memberikannya gambaran latar yang jelas pula."
Penulis perlu tambah banyak pengalaman RT"@flpmalang: Bahkan usai SMA doi belum melanjutkan kuliah, tapi bekerja pd sebuah EventOrganizer."
Iya. Tiap karya itu punya jalan yg berbeda & berliku tp semua proses itu berkesan. RT"@flpmalang: Cuma, lagi-lagi, semua naskahnya ditolak."
Terima kasih kepada @fahrul_khakim untuk sharingnya, mudah-mudahan jadi inspirasi kita semua. Wassalam.
Itu tadi cuap-cuap mimin. Ya, memang segala sesuatu itu tidak ada yang sia-sia termasuk dalam meraih impian menjadi penulis ya.
Hasilnya,kumpulan cerpen doi yang berjudul "Cowokku Vegetarimood" terpajang di toko-toko buku meskiharus menunggu selama enam bulan.
Doi pun yakin bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.
Seseorang bisa saja tidak memiliki apa-apa tetapi paling tidak, memiliki tekaduntuk memperjuangkannya.
Namun, itu dipandangnya sebagai proses belajar. Menurutnya, tidak ada cara instan dalammencapai cita-cita.
Sebagai manusia biasa, malas dan putus asa juga pernah menyambangi seorang FahrulKhakim.
Caranya, memilih ide dan komit terhadap target tulisan setiapminggu. Bahkan, doi rela mengurangi waktu bermain dan kumpul keluarga.
Eits, jangan salah, di sela tanggung jawab sebagai Ketua Bidang Penalaran HMJ Sejarah dan KetuaUKMP, doi tetap produktif menulis.
... atmosfir untuk terus berjuang dan merupakan wadah untuk belajar.
Bergabung dengan para penulis di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang memberikannya ...
Semua itu memudahkan doi untuk menulis adegan natural.
Jalan-jalan memberikannya gambaran latar yang jelas pula.
Nonton film adalah caranya untuk bisa membayangkan kejadian dengan jelas.
Baginya, membaca bukan sekedar hobi, tetapi juga sumber diksi dan gaya cerita baru.
Selain membaca, menonton film, dan jalan-jalan adalah suplemen bagi Fahrul dalammenulis.
... lalu disusul banyak karya lainnya.
Cerpen doi yang terbit di media massa nasional pertama kali adalah "Ocehan Shaira" di Majalah KaWanku tahun 2010, ...
Berbagai lomba dari tingkat lokal hingga tingkat nasional pun ditaklukkannya.
Setahun kemudian, rentetan cerpennya menghiasi berbagai media seperti KaWanku, Teen, Aneka Yess, Tabloid Gaul, Story dan masih banyak lagi.
Memasang target, itulah resep yang dipraktkkan oleh Fahrul. Setiap minggu doi menulis satu cerpen.
Namun, pekerjaan bukan menjadi alasan bagi seorang Fahrul Khakim untuk tidak menulis.
Bahkan usai SMA doi belum melanjutkan kuliah, tapi bekerja pada sebuah EventOrganizer.
Cuma, lagi-lagi, semua naskahnya ditolak.
Impiannyaadalah karyanya mejeng di toko-toko buku dan dibaca banyak orang.
Bacaan bagus dan memotivasi membuat doi kembali menulis cerpen dan novel.
Belum lagi stigma pesimis dari orangsekitarnya, bahwa orang desa mana bisa menulis di media. Doi pun kemudian hanya menulis diary.
Bahkan, doi sempat putus asa karena selalu ditolak media massa.
Berbagai penolakan atas naskah yang ditulisnya tentu saja penah dicicipinya.
Namun, itu bukan penghalang. Tanpa sungkan, Doi menyodorkan naskah padaguru Bahasa Indonesianya untuk dievaluasi.
... menemukan komunitas menulis di daerahtempatnya tinggal.
Saat pertama kali belajar menulis, magister pendidikan sejarah tersebut tidak bisa ...
Baginya, menulis bbukan sekedar mengejar popularitas atau materi, tetapi belajar bijak danberarti bagi sesama.
Itulah yang membuat semangat menulisnyasemakin membara.
Pertama coba, cerpennya yang berjudul "HantuPerpustakaan" langsung dimuat di mading sekolah.
Sejak kelas 1 SD doi sering nulis surat untuk bulek-nya.Doi mulai mencoba nulis cerpen saat SMP.
Tapi berkat kegigihan dan kerja keras, Fahrul Khakim berhasil melampaui proses panjang tersebut.
Untuk menjadi seorang penulis sukses tentu tidak semudah membuat mie instan. Perlu proses panjang yang tentunya tidak mudah.
DARI MENULIS SURAT HINGGA MENERBITKAN BUKU dirangkai oleh @ummurahayu & Ariska Anggraini @sayaanggraini cc si fulan @fahrul_khakim
Siapa dia? @fahrul_khakim dalam "Dari Menulis Surat Hingga Menerbitkan Buku" jam 19.00 nanti.
Mimin paling suka dengan kata-katanya: tidak ada usaha yang sia-sia. Bener, sekarang doi sudah menyabet berbagai kejuaraan menulis.
Nah, doi yang akan kita pergunjingkan kreativitasnya ini sudah menulis sejak SD. Doi juga hobi baca sejak kecil

Dengan senang hati^^ RT"@flpmalang: Terima kasih kepada @fahrul_khakim untuk sharingnya, mudah-mudahan jadi inspirasi kita semua. Wassalam.
Kangen kebersamaan dengan FLP Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar