Temukan

Kamis, 14 Juni 2018

Sinau Aksara Jawa Kuno


Oleh: Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, M.Pd
(Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang)


            Bahasa Jawa Kawi kuno memiliki keunikan tersendiri, terutama sebelum mendapat pengaruh dari Mataram. Bahasa Jawa Kawi berbeda dengan aksara Jawa yang selama ini diajarkan dalam mata pelajar muatan lokal yaitu Bahasa Daerah. Bahasa Jawa Kuno (Kawi) berasal dari abad ke-8 Masehi, lebih kuno dibandingkan aksara Jawa baru / hanacaraka digunakan pada abad ke-16 Masehi.

Belajar Aksara dan Bahasa Jawa Kuno (Kawi) diselenggarakan oleh Komunitas Jawa Kuno di Perpustakaan Umum Kota Malang pada tanggal Sabtu, 2 Juni 2018. Acara ini sengaja diselenggarakan sambil menunggu momen buka puasa karena saat itulah mayoritas masyarakat memiliki waktu senggang.
Aang Pambudi Nugroho, S.Pd, didapuk sebagai pemateri utama memaparkan pentingnya belajar aksara Jawa kuno. Selain untuk mengenal jati diri bangsa, memelajari aksara Jawa kuno juga berguna untuk memupuk rasa cinta kepada kearifan lokal. Setiap prasasti berbahasa Jawa kuno sebenarnya memiliki pesan/isi yang beragam, terutama tentang kehidupan dan teknologi pada masa Indonesia kuno. Misalnya; Prasasti Sangguran yang ditemukan di Batu, berisi tentang pemberian tanah sima/perdikan/tanah bebas pajak kepada para pandai besi di Desa Junrejo. Para pandai besi itu bertugas membuat peralatan perang untuk alutista kerajaan Mataram kuno.

Prasasti tertua di Indonesia yang menggunakan aksara Jawa Kuno Kawi adalah prasasti Dinoyo yang ditemukan di Karangbesuki, Malang. Prasasti peninggalan kerajaan Kanjuruhan itu memiliki makna penting bagi masyarakat Malang. Tetapi prasasti ini masih menggunakan bahasa sansekerta. Aang menjelaskan bahwa dia tertarik belajar prasasti dan aksara kuno sejak terlibat berbagai penelitian di Yogyakarta dan Trowulan. Alumni Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang juga prihatin dengan vandalisme yang marak terjadi di candi-candi, terutama Candi Badut. Oleh karena itu, dia rutin mengadakan diskusi dan workshop menulis aksara Jawa secara sukarela agar bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai peninggalan sejarah.
Enam belas peserta yang mengikuti acara ini tampak antusias mencatat dan berdiskusi dengan Aang. Para peserta berasal dari berbagai latar belakang mulai dari mahasiswa ekonomi, perikanan, teknik, sastra Inggris sampai dosen Geografi. Hal ini menunjukkan bahwa peminat kearifan lokal sebenarnya banyak asal mendapat informasi dan wadah yang tepat. Pemateri mengenalkan aksara Jawa kuno secara lengkap mulai dari huruf, konsonan sampai tanda baca Jawa Kuno. Setiap peserta diberi salinan tiga lempeng Prasasti Kakurugan yang disadur ke dalam kertas agar lebih mudah dipelajari. Aang membimbing para peserta agar mampu memahami teknik dasar membaca prasasti/tulisan Jawa kuno kawi dengan baik dan benar.

dimuat koran Surya: Rabu, 13 Juni 2018

Sabtu, 02 Juni 2018

Berburu Puncak Buthak


12 Mei 2018

       Kami menunggu Mas Wahyu di kontrakan Bayu. Semalam kami menginap di sini. Kontrakan Bayu punya dua kamar tidur, satu dapur dan kamar mandi. Cukup bersih, nyaman dan murah. Aku segera mandi. Setelah menyeduh tiga kopi, Mas Wahyu datang. Kopi buatanku tidak manis karena hanya satu sendok teh gula saja. Nanda tidak suka jadi aku menambah satu sendok lagi.

        Kami sarapan soto ayam dulu sambil belanja sayuran di gerbang masuk Panderman. Dompetku habis untuk membayar empat makanan setelah semalam menyewa dua kantung tidur dan satu lampu tenda. Kami segera parkir di Pos Jaga di lembah Panderman. Kami memarkir tiga motor sambil memotret peta dan membayar karcis.

         Setelah berdoa, kami berangkat mendaki lewat ladang penduduk. Beberapa kali kami harus mengalah dan berhenti karena motor para petani yang berseliweran di jalanan yang sempit. Banyak debu beterngan jadi harus pakai kacamata dan masker. Kami sering istirahat karena lelah dan haus.
         Jalanan menanjak, kering dan banyak pohon tumbang. Kami jadi harus hati-hati. Pepohonan cemara gunung menjulang. Aku kesulitan cari tempat kencing yang cocok. Aku malu kencing di ruang trrbuka tapi akhirnya aku terbiasa walau harus jalan agak jauh dan sembunyi-sembunyi. Kami makan mi kuah dan sarden untuk makan siang setelah kami masak agak lama. Kaiku sudah mau copot. Notifikasi aplikasi olarhaga di ponselku mengabarkan kakiku sudah berjalan 22680 langkah. Rekor terbanyakku. Banyak ulat bergelantungan sepanjang jalan menanjak dan menurun.

Selepas senja, kami masih belum sampai Padang Sabana. Aku berjalan meninggalkan Mas Wahyu sambil sesekali menikmati matahari terbenam. Aku sengaja jalan paling depan karena aku kebelet kencing. Aku ingin kencing di tempat sepi dan aman karena tentu saja tidak ada semak-semak yang nyaman di lereng menuju Sabana. Sesampai sabana, hawa dingin menerpa. Aku duduk di atas rumput kering sambil menunggu rombonganku tiba. Sepuluh menit kemudian, mereka datang.
Kami mendirikan tenda di dekat sumber mata air. Aku membantu memegang lampu LED untuk penerangan karena sama sekali tidak punya pengalaman bagus dalam mendirikan tenda. Hari menginjak malam saat tenda kami berdiri kokoh. Hawa dingin menerjang dengan membabibuta. Entah berapa suhunya, pasti di bawah 10 derajat celcius. Kami memasak di dalam tenda sambil menahan gigil. Setelah menyeduh kopi dan susu, Nanda memasak oseng sawi putih. Ronal memasak mi instan dan nasi.

Karena lapar, kami melahapnya sampai tandas. Tak ada sinyal telepon apalagi internet. Aku agak kesal karena Bayu tidak mau diajak main uno padahal salah satu alasan terbesarku naik gunung adalah biar bisa merasakan sensasi main uno di ketinggian di atas 2000 meter. Setelah mengelap peralatan makan dengan tisu, kami tidur karena lelah. Tengah malam, aku bangun karena kebelet kencing dan salat isya.

Rabu, 30 Mei 2018

Hikayat Lapangan


Setiap menyambut senyummu,
Aku menemukan lapangan bola
Dan tawa kanak-kanak
Yang tak pernah jenuh
Mengejar dan dikejar angin
Meski lutut berdarah
Meski perut terengah

Setiap mengingat candamu,
Aku menemukan bianglala
Dan permen kapas yang
Tak habis-habis
Dilatari lagu pop yang ricis

dimuat koran Malang Post: Minggu, 23 Juli 2017

Jumat, 25 Mei 2018

Kesasar ke Perpustakaan Cerobong Ilmu


6 Mei 2018


            Di jalan gang kecil menuju penginapan kami, berdiri masjid dua lantai berwarna hijau muda. Warna surga. Cukup lucu karena ini masjid penganut Muhammadiyah, warna hijau identik dengan penganut NU. Aku bangun sesuai alarm jadi aku ketinggalan salat subuh berjamaah. Dengan kikuk dan malu, aku masuk ke dalam masjid. Masih ada beberapa jamaah yang mengobrol dengan takmir masjid. Mereka menatapku sekilas. Takmir masjid mengajakku salat jamaah walau dia sudah salat. Syaratnya aku harus jadi imam dengan begitu aku tetap mendapatkan pahala salat berjamaah. Aku menurut saja.
            Sebenarnya penginapan kami tidak begitu nyaman karena terletak di loteng rumah yang sempit. Penginapan Prima ini lebih mirip kos-kosan berisi lima kamar sederhana, satu wastafel dan dua kamar mandi kecil. Memang murah tapi agak pengap. Kami harus menghidupkan kipas angin setengah rusak setiap tidur. Tidak ada nyamuk. Dilengkapi fasilitas wifi dan camilan. Kamar berisi sebuah kasur, bantal, selimut dan lemari. Bahkan ada dua kamar yang tidak dilengkapi lemari dan kipas angin. Dominasi hijau mewarnai dinding sepanjang lorong penginapan. Dilengkapi satu bangku kayu dan jemuran handuk sederhana. Bukan kamar istimewa tapi cukup bersih tanpa kecoak.

            Sehabis menandaskan dua nasi kucing, kami berangkat ke Perpustakaan Grhatama Pustaka di Bantul dengan Gocar. Jalanan santai di hari minggu. Aku sempat kaget melihat bangunan dengan empat menara menjulang seperti cerobong asap itu ternyata perpustkaan. Bukan pabrik semen atau pupuk. Kami memasuki gedung yang mirip perpustakaan UI itu dengan penasaran. Aku mencoba meminta tandatangan untuk SPPD tapi gagal karena kantor humasnya tutup setiap minggu. Bagian tengah perpustakaan adalah taman terbuka dengan meja dan rumput sintesis. Kami segera masuk ke ruang koleksi umum, Ezra mencari buku buruan kami di katalog komputer. Aku mengelilingi setiap sudut perpustakaan sambil mengagumi penataannya yang nyaman dan rapi. Pengunjung diwajibkan melepas sepatu dan memasukkannya ke dalam tas daur ulang berwarna hitam yang sudah disediakan. Kami menenteng tas itu selama di dalam ruangan. Koleksi bukunya tidak selengkap perpustakaan kota Malang.
            Pengemudi Gojek, terutama Gocar, di Yogyakarta dikendalikan oleh vendor. Aku tidak bisa mengisi saldo Gopay.

Minggu, 20 Mei 2018

Keliling Paris van Java


22 Maret 2018

Kami istirahat di RM Kurnia Jatim cabang Lembang dini hari. Hawa Lembang yang dingin membuatku tidur lagi. Sehabis mandi, aku segera sarapan di ruang makan khusus kru dan supir. Kami sempat mencoba kursi pijat listrik, cukup asyik. Hidungku sudah berhenti meler tapi kepalaku masih pening.
Tiga puluh menit sebelum museum pendidikan UPI buka, kami sudah menapaki kawasan sekitar museum yang dihiasi air mancur dan panggung opera terbuka. Gedung museum berlantai enam dengan bangunan yang modern. Kebanyakan berisi diorama dan foto-foto kuno. Aku kecapekan jalan kaki tapi begitu semringah ketika bertemu Mbak Lutfi & Mas Arif. Perjalanan mereka dari ITB ke UPI yang sebenarnya Cuma lima kilomter terpaksa ditempuh lima puluh lima menit karena kota Bandung macet. Kami berniat menunggu rombongan Pak Ari dkk tapi batal karena kami harus menuju destinasi berikutnya. Para kondektur sempat marah karena menunggu Epen dkk yang sedang ke Gedung ISOLA, entah untuk apa. Epen punya kebiasaan memotret setiap toilet tempat wisata. Aku diam saja karena tidak mau memperkeruh suasana.
Kondekturnya bahkan sampai melarang siapa pun mengisi baterai di colokan depan padahal setiap saat aku selalu mengisi baterai di situ. Dia bilang colokan itu khusus kru transportasi. Padahal chargernya juga jarang dipakai. Duh, lagunya jelek-jelek. Mending dimatikan saja biar aku pakai headset. Tak mungkin menyamakan selera lagu semua orang karena pasti berbeda. Aku lebih suka pop, mereka pecinta dangdut.

Baru saja aku hampir tertidur, kami sampai di Museum Geologi Bandung. Bangunan kolonial yang berdiri sejak 1867 ini dipenuhi bebatuan langka, fosil dan artefak. Cocok untuk mata kuliah Geohistori. Aku kencing dua kali di museum ini. Kami berjalan tiga ratus meter menuju Gedung Sate, ikon khas Bandung. Akhirnya aku bisa bertemu rombongan pejabat FIS yang jadi pelopor Museum UM. Kami hanya sempat berfoto sebentar. Aku harus segera makan siang untuk minum obat. Nasi kotak untuk dosen memang disendirikan tapi aku tak pernah suka tambahan lauk khusus dosen yaitu ikan asin, lebih baik diganti telur / tahu saja. Buah bahkan lebih baik dan sehat.
            Entah kenapa aku begitu menikmati menulis bukuharian ketika bus berjalan. Bukannya aku tak tertarik memerhatikan sekitar tapi aku merasa lebih nyaman. Aku ingin menemukan kembali semangat dan bakat menulisku. Aku membiasakan menulis apa saja supaya jiwaku lebih tenang dan positif. Apalagi aku tak dekat dengan satu pun mahasiswa dalam busku. Canggung. Tapi aku selalu menjaga hubungan baik kami.

Selanjutnya kami mengunjungi Museum Konferensi Asia Afrika yang legendaris. Aku juga belum pernah ke sana. Aku sudah memasukkan novelku ke dalam tas karena tadi aku lupa membawanya saat ke museum Geologi dan Gedung Sate. Sepertinya honor bukuku masuk ke rekening karena aku baru saja mendapat SMS banking. Aku ingin membeli sepatu sneaker dan kemeja flanel yang murah dan bagus di sini. 
Kami berjalanan sekitar tiga ratus meter dari parkiran menuju Museum Konferensi Asia Afrika. Kami gagal masuk karena kapasitas gedung tidak cukup dan masih renovasi. Kami berjalan menuju alun-alun dengan kecewa. Setelah menunaikan salat dhuhur, aku istirahat di masjid sambil menunggu adzan ashar. Kami kembali ke bus dengan buru-buru karena mendadak gerimis. Aku membeli cimol karena agak lapar. Aku tidak suka karena   teksturnya lebih keras mirip tahu bulat dengan bubuk bumbu.
Sebenarnya agak susah memakai tablet karena agak lemot dan daya baterai rendah, aku harus sabar memakainya. Performa tabletku memang sudah menurun walau aku hanya memakainya untuk menulis di MS. Word / membuka media sosial tapi cukup lancar untuk memutar musik/film/bermain games Candy Crush.
            Kami belanja oleh-oleh khas Bandung di Swalayan Grutty, Cibaduyut. Aku membeli oleh-oleh untuk Ukik, Nanda, Bintang & Bagas. Aku membeli sepatu kets merah untuk diriku sendiri. Aku ingin membeli kado untuk Makin tapi batal karena kakiku capek. Aku kelaparan tapi engan makan pop mi. Kebanyakan micin bikin mual.
Makan malam di RM Padang Simpang Raya, tepi Bandung. Sebagian supir datang telat jadi makanan khusus kru dan dosen belum disediakan. Aku segera makan dan sholat. Seusai salat, aku baru sadar Juanda dari Off B kesurupan di depan mushola. Pak Najib dan Ronal meruqyahnya. Aku tak tahu apa-apa soal menyembuhkan kesurupan. Banyak orang yang turun tangan. Jadi aku hanya berdoa saja. Perjalanan berlanjut delapan jam menuju Jogja. Aku ingin segera tidur nyenyak biar batukku lekas sembuh.

Jumat, 11 Mei 2018

Selamat Hari Buku Nasional 2018



Buku-buku karya tunggal:
1. Cowokku Vegetarimood (2013)
2. Hiding My Heart (2015)
3. Dandelion Lover (2015)
4. Monolog Waktu (2016)
5. Janji Pelangi (2017)


Buku antologi bersama:
1. Curhat Anak Bangsa (2011)
2. Bulan Kebabian (2011)
3. Hari Ketika Penyihir jadi Naga (2012)
4. Perempuan Merah & Lelaki Haru (2012)
5. Ada Kisah di Setiap Jejak (2012)
6. Downpour Rhapsody (2012)
7. Menebus Dosa di Negeri Cekaka (2012)
8. Cinta & Sungai-sungai Kecil (2013)
10. Petaka Sastra Jendra (2013)
11. Perempuan dan Bunga-bunga (2014)
12. Mata Air (2014)
13. Nyanyian Meranti Merah (2014)
14. Wanita 5 Musim (2015)
15. Memperteguh Identitas Bangsa (2016)
16. Sepotong Cerita di Lorong Pesantren (2016)
17. Ini Baru Cipo (2018)
Alhamdulillah!



Selasa, 01 Mei 2018

Berburu Wayang di Kota Tua


21 Maret 2018
Kota Tua selalu Ramai
            Tidurku nyenyak. Setelah sarapan, kami berangkat menuju Kota Tua Jakarta. Kami mengelilingi museum Fatahilah sampai Museum Wayang. Mendadak aku kelaparan. Padahal tadi pagi aku sudah sarapan banyak mulai dari sereal sampai buah. Aku membeli tahu genjrot dan cilok ayam. Selanjutnya kami mengunjungi Museum Nasional di Jakarta Pusat. Gedung A sedang diperbaiki jadi kami hanya bisa menikmati gedung C. Koleksinya bercampur dari berbagai masa dan daerah di Indonesia. Aku menemukan naskah pandan berisi ramalan yang berasal dari Tuban. Aku jadi penasaran isi setiap ramalan dan ingin menelitinya. Aku juga menemukan Prasasti Majapahit dari Singosari dan Prasasti Kanjuruhan dari Malang. Sayang, sebagian besar koleksi terkenal yang asli dari masa kuno Indonesia tersimpan di gedung A. Dulu tahun 2015, aku juga gagal masuk gedung A karena museum libur tiap senin. Isi gedung C masih belum tertata dengan baik.
Edisi pinjam sepeda
Aku kelaparan. Aku segera menyeberang menuju Monas. Antriannya begitu panjang. Berjam-jam. Aku sempat mengitari Monas tapi tidak sempat naik ke puncak karena lelah dan kehabisan waktu. Aku segera makan siang. Sambil menunggu bus siap berangkat, aku membaca buku puisi Biografi Tubuh Nabi karya Royyan Julian. Aku kangen kamar hotel. Pengen check in lagi.
Ondel-ondelnya ngajakin foto
Kami menuju studio Net TV di Perkantoran Mitra - Jakarta Selatan. Gedung studio Net TV tidak sesuai ekspektasi kami. Tidak mencolok sama sekali, bahkan hampir mirip gudang di belakang pujasera elite Mitra. Semua mahasiswa berbondong-bondong ke toilet untuk mandi. Aku segera ke mushola dengan kepala pening. Aku benar-benar ingin memesan hotel sendiri mengingat tidur di bus sama sekali tidak nyaman. Tarif Fave Hotel cuma Rp260000/malam. Aku ingin tidur nyaman karena flu ini menyebalkan. Aku sudah terkena flu sejak hari minggu. Aku sudah rutin minum vitamin C & antalgin, tapi fluku tak kunjung sembuh. Flu kering. Aku hampir menghabiskan satu gulung tisu hotel. Malam ini puncaknya hidungku meler sampai aku bersin-bersin. Aku meminum obat batuk dari Ziya, mahasiswiku. Semoga besok pagi fluku sembuh. Aku sudah rajin buang ingus tiap kali ada kesempatan.
Aku minta foto di sini pakai kamera mahasiswa terus hilang karena memorinya rusak
Jam sebelas malam, kami bersiap berangkat ke Bandung. Perjalanan malam yang melelahkan. Aku lapar lagi, ingin pop mi hangat dengan sosis dan segelas teh hangat. Ibuku tadi siang menelepon. Beliau dan Endine sedang di Bululawang. Besok pagi mereka balik ke Tuban bersama rombongan seminar Bravo. Padahal aku ingin berjumpa barang sebentar. Aku mengantuk tapi susah tidur.