Temukan

Jumat, 08 September 2017

Pesan Kelam dari Saudara dalam Sejarah

Oleh: Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, S.Pd., M.Pd
(Dosen Sejarah, Universitas Negeri Malang)

            Pemutaran Film Dokumenter “ Saudara Dalam Sejarah / Dear My Homeland” karya Amerta Kusuma. Diskusi film ini dikupas oleh Mahesa Desaga, Sutradara asal Kediri, dan Yusri Fajar, dosen UB dan sastrawan yang pernah belajar di Eropa. Acaara atas kerjasama Pelangi Sastra Malang dan Gambaroba ini digelar pada Senin, 28 Agustus 2017 di Kafe Pustaka, Perpustakaan Universitas Negeri Malang.
            Mahesa yang sudah berpengalaman membuat film ini menduga bahwa film ini ingin mengangkat sesuatu yang tidak diekspos secara besar. Warisan orde baru yang jarang diketahui. Awal munculnya orde baru, para eksil itu sebenarnya adalah mahasiswa yang berada di luar negeri untuk lanjut belajar tapi terjadi pergolakan politik di Indonesia. Pergantian rezim politik tidak seharusnya menggunakan cara sekejam itu. Warisan orde baru yang layak untuk diperbincangkan secara humanis karena ada yang tidak beres dalam sejarah Indonesia.
            Yusri menilai film ini bukan gambaran yang tepat sebagai sumber sejarah para eksil itu. Film ini cocok untuk membahas tentang kondisi psikologi para eksil Indonesia. Kita harus membedakan antara eksil dan imigran. Posisi eksil dan imigran itu berbeda karena imigran bebas pulang-pergi ke Indonesia. Tom Ilyas sebagai tokoh kunci dalam film ini mengunjungi semua kawan-kawannya sesame eksil Indonesia di Belanda. Waktu pulang ke Sumatera pada 2015, ternyata Tom Ilyas masih diperlakukan secara kasar di kantor imigrasi, bahkan sampai para petugas membentak-bentak dan membanting gelas. Para eksil Indonesia banyak yang berada di Eropa Timur karena Soekarno punya hubungan baik dengan negara-negara Eropa Timur seperti Rusia, Slovakia dan Ceko. Mereka disuruh lanjut belajar asal bisa membangun Indonesia setelah lulus kuliah. Tom Ilyas sebenarnya dikirim ke China tapi di sana sedang terjadi pergolakan juga sampai akhirnya terdampar di Belanda. Bagaimana mereka bisa tetap bertahan di sana? Belanda memiliki satu aturan khusus soal eksil politik. Alasan secara historis, para penjajah itu pernah melakukan banyak dosa sejarah sehingga ingin ditebus. Ketika negara Eropa tidak punya kebijakan seperti itu, maka para eksil ini akan  kesulitan. Kecuali para eksil yang menikah dengan perempuan Eropa, maka akan memiliki kemudahan di Eropa.
dimuat koran Surya: Jumat, 8 September 2017

            Salah satu kisah eksil yang menyentuh dalam film itu adalah Sarmadji, 50 tahun, pengumpul obitiari dan riwayat hidup para eksil Indonesia di berbagai negara.  Sarmajid membukukan nasib kawan-kawan seperjuangannya itu dengan sukarela dan terinspirasi salah satu isi buku Pramudya Ananta Toer; menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.  Lebih dari 130 eksil yang sudah meninggal dan dikuburkan di luar negeri. Sarmadji tidak suka passport Belanda karana hatinya tetap orang Indonesia. Dia terpaksa menggunakan passport Belanda untuk menengok Indonesia (Solo).

            Wacana di balik pelarian para eksil politik. Dunia batin para eksil selalu dipenuhi dengan memori imaginary homeland. Memori itu akan terpecah-pecah karena daya ingat akan menurun seiring bertambah usia, berusaha ingin memiliki masa lalunya. Solidaritas dan kekeluargaan menjadi prioritas dipertahankan pada masa tua untuk membantu memaafkan masa lalu. 
dimuat koran Surya: Jum’at, 8 September 2017

Sabtu, 02 September 2017

Rahasia Nasi Jinggo Sigura-gura

Oleh: Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, M.Pd
(Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang)

            Nasi Jinggo umumnya dijual di Bali, tapi nasi jinggo Sigura-gura ini punya rasa yang boleh diadu. Nasi jinggo memang bukan makanan mewah, tapi makanan merakyat yang murah tapi komplit. Penggemar nasi jingo berasal dari berbagai kalangan, usia dan status. Kini nasi jingo juga hadir di Malang dengan kemasan yang sama persis dengan nasi jingo yang populer di Bali. Bedanya, Tapi Nasi Jinggo Sigura-gura ini hanya dijual untuk sarapan pagi.
Nasi Jinggo Sigura-gura - dok. pribadi

            Bagi sebagian orang, rutinitas pagi yang penting. Ada yang merasa tidak lengkap memulai hari tanpa sarapan. Manfaat sarapan sendiri cukup banyak yaitu menambah energi tubuh. Nasi Jinggo Sigura-gura menawarkan menu sarapan yang sederhana dengan lauk empat sehat yang nikmat. Harga yang terjangkau yaitu Rp5000/porsi membuat kuliner ini jadi sasaran para mahasiswa. Nasi Jinggo ini dijual di lapak sederhana depan kampus ITN, Jalan Sigura-gura.
            Kombinasi lauk Nasi Jinggo Sigura-gura tidak ada bedanya dengan Nasi Jinggo dari Bali yaitu terdiri dari sambal bajak, ayam suwir, dadar suwir, dan mi goreng. Sambal ayam suwir ini juga berbumbu jadi cocok dimakan dengan nasi. Sambal bajak yang pedas menawarkan sensasi panas yang cocok dengan tekstur mi goreng dan dadar suwir yang gurih. Daun pisang yang digunakan untuk membungkus makanan ini menambah sedapnya sarapan dengan nasi jinggo.
            Porsi nasi jingo yang mirip nasi kucing yaitu cuma segenggam tangan saja. Satu porsi cuma cukup untuk mengganjal perut jadi beberapa pelanggan juga membeli beberapa bungkus untuk mengeyangkan perut. Nasi Jinggo ini juga tidak mudah basi, bisa tahan sampai lima jam. Jadi bisa juga dijadikan bekal kerja atau kuliah untuk makan siang. Persebaran Nasi Jinggo yang juga popular di Malang menandakan penerimaan budaya kuliner yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner juga bisa menghapus perbedaan suku, ras, dan agama. Kuliner mampu menjembatani toleransi antar golongan dengan cara yang unik dan harmonis.


dimuat koran Surya: Sabtu, 2 September 2017

Rabu, 23 Agustus 2017

Perbaiki Halte yang Roboh

Oleh: M. Nurfahrul Lukmanul K.
(Dosen Universitas Negeri Malang)

            Halte bis di Bululawang sudah roboh dan menimpa trotoar selama berhari-hari. Penyebab robohnya halte tersebut masih belum diketahui. Halte ini letaknya strategis yaitu di sisi selatan pasar Bululawang. Setiap pagi dan siang, halte ini digunakan siapa saja mulai dari anak sekolah sampai ibu rumah tangga untuk menunggu bus atau angkutan lainnya. Robohnya halte ini tentu menyusahkan siapa saja yang hendak menunggu angkutan umum seperti bus dan angkot. Apalagi saat ramadhan seperti sekarang ini identik dengan aktivitas mudik sehingga halte pasti ramai.
Sumber: tribun

Pengguna trotoar juga terganggu dengan robohnya halte tersebut sehingga mereka terpaksa lewat bahu jalan. Perbaikan halte yang roboh perlu dilakukan segera untuk menyambut mudik lebaran. Halte menjadi tempat tunggu yang layak dan gratis di tengah terik matahati dan hujan. Ketiadaan halte tersebut meresahkan calon penumpang angkutan umum karena tidak menemukan tempat yang cocok untuk menunggu angkutan. Angkutan umum juga susah melayani para penumpang yang menyebar di beberapa lokasi. Halte bukan hanya berfungsi sebagai tempat tunggu, tetapi juga tempat penjemputan utama sehingga membuat alur penumpang dan angkutan umum menjadi lebih tertib dan teratur.


dimuat koran Surya: Kamis, 9 Juni 2016

Jumat, 18 Agustus 2017

Jangan Buang Putung Rokok Sembarangan

Oleh: M. Nurfahrul Lukmanul Khakim
(Dosen Universitas Negeri Malang)


            Sampah yang sering disepelekan adalah putung rokok. Para perokok cenderung acuh membuang putung rokok di mana saja. Saya sering mendapati putung rokok dibuang sembarangan di selokan bahkan pot tanaman. Putung rokok ini jika dibiarkan akan menyebabkan bau tidak sedap, bahkan seringkali susah dihancurkan oleh tanah. Di kantor-kantor umum atau pasar, putung rokok bertebaran dimana-mana karena tidak tersedia tempat sampah khusus putung rokok.
            Putung rokok yang masih menyala atau menyisakan bara api itu juga berbahaya karena dapat menimbulkan kebakaran. Jika tidak disediakan tempat khusus rokok, maka putung rokok yang dibuang ke tempat sampah biasa bisa jadi akan membakar sampah-sampah kering yang mudah terbakar seperti kertas dan plastik. Belum lagi saat putung rokok tersebut dibuang sembarangan dan mengenai bahan yang mudah terbakar lainnya seperti bensin atau bahkan kabel listrik. Sungguh, perokok harus sadar dan berpikir dua kali untuk membuang putung rokok seaman mungkin.


dimuat koran Surya: Rabu, 1 Juli 2015

Kamis, 10 Agustus 2017

Ketika Islam dan Kebangsaan Dipersatukan

Oleh: Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim, M.Pd
(Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang)



            Konflik ideologi yang ramai diperbincangkan akhir-akhir di Indonesia menjadi hal yang serius untuk dikaji. Media massa maupun media sosial menjadi wadah pergesekan wacana mengenai Islam dan Kebangsaan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu diberi pemahaman baru mengenai posisi Pancasila dalam menjembati Islam dan Kebangsaan. Sarasehan Nasional bertema ‘Islam dan Kebangsaan’ digelar di Auditorium FMIPA Universitas Negeri Malang; Rabu, 2 Agustus 2017 untuk mewadahi diskusi untuk menghadapi konflik ideologi yang meresahkan bangsa Indonesia.
            Dua pakar pancasila menjadi pembicara utama dalam sarasehan ini adalah Anas Saidi dan Ahmad Rosyid Al Atok. Moderator acara ini adalah Asri Diana Kamilin, Mawapres II UM 2014 sekaligus jebolan Indonesia Mengajar 2016/2017. Sarasehan ini termasuk serangkaian kegiatan untuk memeriahkan MTQM Nasional XV 2017 yang diselenggarakan di Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang. Sarasehan nasional bertujuan untuk membekali para kafilah (sebutan untuk mahasiswa yang jadi finalis MTQMN) mengenai Indonesia sebagai bangsa yang beragam dan berkesatuan dalam falsafah pancasila.

             Anas Saidi selaku Deputi Bidang Pengkajian dan Materi UKP PIP mengkritisi tentang kebiasaan membaca yang masih rendah di Indonesia, terutama pada generasi muda. Dampak dari hal tersebut adalah masyarakat yang memiliki wawasan yang rendah cenderung mudah terpengaruh isu-isu sensitif yang berpotensi memecah-belah kebangsaan. Padahal Islam melalui kitab suci Alquran justru mengutamakan membaca sebagai ibadah yang utama. Banyak manfaat positif dari membaca yaitu menambah wawasan dan membuat manusia lebih bijaksana. Pak Anas yang juga berkiprah sebagai Peneliti LIPIdan Dosen UI telah melakukan penelitian di berbagai negara itu mengakui Indonesia justru dipuji dunia sebagai negara ideal yang patut dicontoh sebagai negara mayoritas muslim yang damai dan harmonis.
            Ahmad Rosyid Al Atok selaku Kepala Pusat Pengkajian Pancasila UM mengatakan bahwa pada dasarnya setiap manusia yang lahir pasti punya ikatan emosi yang berkaitan dengan tanah tempat kelahiran, tempat tinggal dan lingkungan sosial. Ikatan emosi inilah yang memunculkan rasa kebangsaan. Dalam Islam, rasa kebangsaan yang berupa cinta tanah air, menghormati perbedaan, dan hidup bersama itu justru dianjurkan oleh para pemeluknya. Alquran pada surat An-Nisa ayat 36 sendiri menegaskan larangan chauvinis atau sombong dan membanggakan diri, artinya umat Islam justru diwajibkan untuk mensyukuri tanah air sebagai nikmat Allah, mencintai sesama makhluk, menjalankan syariat Allah serta meneladani sikap dan akhlak Rasulullah SAW. Isu-isu terorisme yang memojokkan umat Islam sebenarnya juga perlu dikritisi karena radikalisme bukan hanya mengatasnamakan agama Islam, tapi juga banyak oknum lain yang punya kepentingan untuk menebar kebencian. Menggalakkan kebiasaan membaca menjadi salah satu kunci penting bagi generasi muda agar mampu mawas diri, melakukan autokritik dan menerima masukan positif.

            Ratusan peserta sarasehan dari seluruh penjuru Indonesia mengikuti acara dengan antusias. Pancasila itu cita-cita bangsa Indonesia. Selayaknya warga Indonesia merawat dan mengenali isi pancasila agar mampu bertahan sebagai bangsa yang kuat. Telah banyak contoh negara di Timur Tengah yang hancur karena konflik ideologi berkepanjangan karena negara-negara terus telah tercerabut dari akar jati diri bangsanya sendiri.

Dimuat koran Surya: Rabu, 9 Agustus 2017

Selasa, 01 Agustus 2017

Gejolak Jiwa di Balik Novel ‘Gidher’

Oleh: Moch. Nurfahrul Lukmanul Khakim
(Dosen Sejarah, Universitas Negeri Malang)


            Sore yang cerah itu, Arung Wardana Elhafifie sudah datang ke kampsu Universitas Negeri Malang dari Bangkalanga. Arung mengendarai motor sendiri dari Bangkalan setelah mampir Singosari. Arung adalah pekerja seni dan penulis yang produktif, serta terpilih sebagai penulis wakil Indonesia dari delapan ratus pendaftar dalam ajang Interntional Ubud Festival Writers & Readers 2016 di Bali.
            Saat ini Arung menimba ilmu teater di sebuah sekolah tinggi seni swasta di Surabaya setelah drop out sebagai Mahasisa Psikologi. Hidup Arung memang penuh dengan drama dan pertanyaan yang tak terjawab. Arung berusaha menemukan jawabnnya dengan berkarya melalui teater dan sastra. Salah satunya lewat menulis, Arung sudah menulis empat novel. Dalam dunia teater, pemilik nama asli Hoirul Hafifi juga telah menulis drama dan monolog serta mementaskannya ke berbagai kota di Indonesia.
            Novel Gidher (bahasa Madura) artinya setengah gila. Arung melihat semua orang di sekitarnya setengah gila. Orang-orang itu memaksa orang lain melakukan hal benar tetapi pada saat yang sama, mereka juga melakukan keburukan dengan sukarela.
            Seorang lelaki jadi gila karena cintanya dikhianati seorang perempuan yang berprofesi sebagai penari tradisional Madura. Perempuan ini lebih memilih lelaki lain yang kaya dan berstatus sosial tinggi padahal pacarnya sudah mengorbankan apa saja untuk bisa menikahninya. Lelaki korban asmara itu meracau dan mengutuk siapa saja karena sudah kehilangan harapan pada dunia.

            Karya-karya Arung lebih banyak mengangkat permasalah etnografi di Madura. Diskusi novel Gidher di UKM Penulis UM berlangsung hangat dan seru kemarin, Sabtu, 8 Juli 2017. Belasan peserta diskusi asyik menyimak dan bertanya langsung mengenai karya terbaru Arung.
Diskusi dan bedah novel Gidher sudah berlangsung di berbagai kota di Jawa Timur mulai dari Bangkalan, Jember, Jombang, dan Surabaya. Arung berharap novelnya bisa membuka mata orang Madura, khususnya perempuan Bangkalan, agar bisa lebih mandiri lewat pendidikan yang lebih baik. Semoga Arung selalu produktif dalam berkarya.


dimuat koran Surya: Senin, 17 Juli 2017

Selasa, 25 Juli 2017

Saat Hak Perempuan Terancam dalam Pernikahan

Judul Film       : Talak 3
Sutradara         : Hanung Bramantyo & Ismail Basbeth
Pemain             : Vino G. Bastian, Laudya Cintya Bella, Reza Rahadian
Produksi          : MD Entertainment
ResensiTahun Rilis      : Februari 2016
Durasi              : 75 menit


            Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang tidak doyan duit. Seloroh petugas KUA dalam film ini menjadi tema besar yang melandasi film komedi romantis ini. Sebenarnya film ini sangat serius tetapi kolaborasi sutradara kondang Indonesia ini bisa mengemas persoalan korupsi di Indonesia dengan dialog yang cerdas, situasi yang komikal dan adegan yang natural. Cerita bermula ketika Bagas (diperankan Vino G. Bastian) dan Risa (Laudya Cinta Bella) yang sudah bercerai tiga bulan diteror oleh agen properti karena telat membayar cicilan rumah. Mereka yang baru saja bercerai ternyata menumpuk banyak utang dan kehabisan harta demi mempertahankan ego masing-masing. Perceraian ternyata berimbas besar pada kejatuhan bisnis mereka sebagai agen event organizer. Bimo (Reza Rahadian), asisten sekaligus sahabat mereka, ternyata menyadarkan mereka tentang kolaborasi mereka yang hebat dalam berbisnis. Kabar baik juga datang dari Inggrid (Tika Panggabean) bos mereka yang menerima akhirnya proposal wedding organizer yang telah lama mereka ajukan.
            Proposal itu menjadi titik balik dalam hidup mereka karena atas nama ide kolaborasi, sang bos mewajibkan mereka kembali menikah secara sah.     Atas tuntutan utang dan rasa sayang yang masih tersisa, Bagas dan Risa berusaha kembali menikah didukung oleh Bimo. Namun mereka terancam tidak bisa menikah karena dulu Bagas sudah menjatuhkan talak 3 kepada Risa. Walau pun sudah mencoba suap sana-sini, mereka akhirnya gagal mengakali sistem pengadilan. Satu-satunya solusi ialah mencarikan mualil untuk Risa yaitu lelaki yang bersedia menikah dan diceraikan dengan cepat. Bagas yang gampang cemburu menetapkan keriteria telak untuk calon mualil: tidak boleh melakukan hubungan suami istri padahal hal itu hukumnya wajib. Mulai dari lelaki flamboyan sampai guru spiritual gadungan sudah ditawarkan untuk Risa, tapi selalu berakhir berantakan. Akhirnya pilihan jatuh pada Bimo, yang dianggap pengertian dan bisa dipercaya untuk jadi mualil. Semua berjalan lancar sampai akhirnya Risa menemukan rahasisa terbesar Bimo soal cinta pertama dalam hidup sahabatnya sejak kecil itu. Situasi semakin rumit saat Risa dan Bimo akhirnya justru ingin menikah secara serius, bukan sandiwara seperti yang mereka rencanakan selama ini bersama Bagas.
            Keputusan apa pun dalam pernikahan termasuk memutuskan bercerai harus direnungkan dengan mendalam agar tidak berjunung penyesalan dan merugikan banyak pihak. Talak dalam Islam justru berfungsi untuk melindungi kaum perempuan dari kesewenang-wenangan lelaki. Pada zaman jahililah di Arab dulu lelaki begitu gampang menikah dan menceraikan perempuan sehingga perempuan selalu berakhir jadi korban. Perempuan tidak hanya menanggung luka hati sendirian tetapi beban malu dan stigma sosial. Sungguh disayangkan sosok Risa dalam film ini justru lemah dalam mewakili sosok perempuan tegar yang memperjuangkan nasib perempuan dalam pernikahan. Risa terlalu manut dengan alur yang direncanakan Bagas untuk dirinya sehingga Risa jadi perempuan yang susah untuk mandiri dan ceroboh. Sosok Risa seolah mewakili kebanyakan ibu-bu muda masa kini yang materialistik, pengejar karir tapi mudah labil. Alterego Risa yaitu sosok-sosok perempuan bijaksana justru terlihat dalam diri Budhe yang akhirnya menyadarkan Risa tentang keberanian memilih dalam hidup ini, bahwa perempuan juga punya hak untuk mencari hal terbaik untuk diri mereka sendiri.
            Kasus korupsi yang kerap terjadi di kementerian agama juga disindir dengan jenaka dalam film ini sehingga tanpa disadari penonton bisa mengambil hikmah sambil merefleksi diri. Basuki Alur cerita yang cepat membuat pembangunan emosi antar tokoh menjadi kurang intens. Hal ini berpengaruh besar pada emosi cerita yang disalurkan kepada penonton menjadi lemah. Logika cerita juga menjadi lubang tersendiri di beberapa adegan namun terasa seperti wajar karena hal tersebut juga biasa terjadi di Indonesia. Sungguh disayangkan setting Yogjakarta tampaknya kurang dimanfaatkan secara kultural untuk mendukung potensi cerita menjadi lebih berbobot. Akhir-akhir ini memang banyak film laris yang mengambil latar di kota tersebut sehingga jadi tren latar film-film Indonesia tapi justru hanya sebagai latar biasa. Jika latar cerita dipindah ke kota lain pun, nuansa film juga tetap sama.
Pernikahan pasangan muda selayaknya direncanakan dengan matang lahir dan batin. Seminar pranikah yang kerap diadakan di berbagai kampus bisa dijadikan lahan pembelajaran awal agar tidak mudah labil dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Film ini seolah menegaskan bahwa apa yang dimulai dengan niat buruk, pasti tidak akan berakhir baik. Seperti disimpulkan dalam salah satu dialog anti-klimaks film ini: walau pun muka bapak tak enak, kami butuh orang-orang bersih seperti bapak untuk menikahkan mereka---orang-orang terbaik dalam hidup saya.

Juara Harapan 1 Lomba Menulis Resensi 2016 dan dimuat Majalah Komunikasi edisi 310 Mei – Juni 2017