Temukan

Jumat, 10 Juli 2015

Ada Harapan di Sela-sela Kota

Judul buku       : Kata Kota Kita
Penulis             : Gramedia Writing Project 1
Tahun terbit     : 2015
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Halaman          : 272
Peresensi         : M. Nurfahrul Lukmanul Khakim[1]
 
Kumcer 'Kata Kota Kita'
Setiap kota pasti memiliki kenangan yang berbeda dan istimewa. Ada suka, tak jarang pula luka. Namun apa jadinya saat 20 penulis berbeda latar belakang ini menulis kisah dengan berbagai latar yang berbeda pula? 20 penulis dari berbagai daerah di Indonesia itu ialah jebolan Gramedia Writing Project Bacth 1 antara lain: Cindy Pricila, Emilya Kusnaidi, Yatzhiar Nao, Djan Fraumi, Lily Marlina, Putra Zaman, Idawati Zhang, Lidya Renny Ch., Orinthia Lee, Rizky Novianti, Yulikha Elvitri, Tsaki Daruchi, Emha Eff, Tj Oetoro, Marisa Jaya, Ayu Rianna, dan Dwi Ratih Ramadhany.
Salah satu kota yang dijadikan cerpen dalam buku ini adalah kota Malang berjudul Cinta dan Secangkir Cokelat Panas karya Dwi Ratih Ramadhany. Cerpen ini unik karena menggunakan kota Malang sebagai sudut pandang cerita. Berkisah tentang dilema seorang gadis bernama Risa yang gagal menjalani hubungan jarak jauh tetapi gamang ketika berhadapan dengan sang mantan.
Isu terkini tentang modus kejahatan internet diangkat dengan apik dalam cerpen Let the Good Times Roll karya Emha Eff. Cerpen yang mengambil latar kota New Orleans, AS, ini menceritakan kebencian seorang gadis bernama Maddie pada ibutirinya, Loretta, yang hadir dalam keluarganya. Demi menghindari Loretta dan keluarganya, Maddie kabur dan terhanyut pesona Festival Mardi Gras bersama Lucas, lelaki yang dia kenal dari internet dan membuatnya jatuh cinta. Ternyata Lucas telah menjebaknya dengan kejahatan seksual. Pertolongan Loretta justru mampu mengubah persepsi Maddie tentang arti keluarga.
Fenomena tawuran antar SMA yang marak terjadi di ibukota menjadi tema penuh perenungan dalam cerpen Bulungan karya TJ Oetoro. Cerpen ini mampu menarik sisi kelam masa lalu suatu kota dan mengaitkannya dengan konteks masa kini. Tawuran yang berbuntut korban jiwa harus ditangani secara serius oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya oleh para remaja yang sering terjebak permainan ego sesaat.
Depresi yang kelam dan berkepanjangan diramu dengan membius dalam cerpen Ankara di Bawah Purnama karya Tsaki Daruchi. Pembaca akan dibuat bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada gadis asal Indonesia bernama Wina dan siapa sebenarnya lelaki bernama Erdem itu. Wina terjebak penantian pedih di ibukota Turki sendirian. Cinta penuh resiko yang telah dipilih Wina membawanya pada masa depan yang rapuh dan sulit untuk disembuhkan.
Penyesalan menjadi tema utama dari 20 cerpen dalam buku ini. Gaya bercerita yang mengalir serta penggambaran kota yang menarik mampu memikat pembaca memahami detail cerita. Beberapa cerpen kurang menggarap suasana serta meracik konflik yang terlalu sederhana sehingga sering membuat jalinan cerita kurang kuat. Para tokoh dan karakter dalam cerpen cukup mampu mengupas dan berdamai dengan penyesalan. Memaafkan penyesalan itu memang seperti mengupas bawang, pedih saat melepas setiap lapis penyelasan sampai manusia akan menemukan sisi terbaik dari sebuah bawang. Inti dari bawang itu laksana kehidupan yang bukan lagi pedih, tetapi bagian yang paling utuh bernama harapan.



[1] Mahasiswa Universitas Negeri Malang

2 komentar: