Temukan

Wednesday, May 30, 2018

Kesasar ke Perpustakaan Cerobong Ilmu


6 Mei 2018


            Di jalan gang kecil menuju penginapan kami, berdiri masjid dua lantai berwarna hijau muda. Warna surga. Cukup lucu karena ini masjid penganut Muhammadiyah, warna hijau identik dengan penganut NU. Aku bangun sesuai alarm jadi aku ketinggalan salat subuh berjamaah. Dengan kikuk dan malu, aku masuk ke dalam masjid. Masih ada beberapa jamaah yang mengobrol dengan takmir masjid. Mereka menatapku sekilas. Takmir masjid mengajakku salat jamaah walau dia sudah salat. Syaratnya aku harus jadi imam dengan begitu aku tetap mendapatkan pahala salat berjamaah. Aku menurut saja.
            Sebenarnya penginapan kami tidak begitu nyaman karena terletak di loteng rumah yang sempit. Penginapan Prima ini lebih mirip kos-kosan berisi lima kamar sederhana, satu wastafel dan dua kamar mandi kecil. Memang murah tapi agak pengap. Kami harus menghidupkan kipas angin setengah rusak setiap tidur. Tidak ada nyamuk. Dilengkapi fasilitas wifi dan camilan. Kamar berisi sebuah kasur, bantal, selimut dan lemari. Bahkan ada dua kamar yang tidak dilengkapi lemari dan kipas angin. Dominasi hijau mewarnai dinding sepanjang lorong penginapan. Dilengkapi satu bangku kayu dan jemuran handuk sederhana. Bukan kamar istimewa tapi cukup bersih tanpa kecoak.

            Sehabis menandaskan dua nasi kucing, kami berangkat ke Perpustakaan Grhatama Pustaka di Bantul dengan Gocar. Jalanan santai di hari minggu. Aku sempat kaget melihat bangunan dengan empat menara menjulang seperti cerobong asap itu ternyata perpustkaan. Bukan pabrik semen atau pupuk. Kami memasuki gedung yang mirip perpustakaan UI itu dengan penasaran. Aku mencoba meminta tandatangan untuk SPPD tapi gagal karena kantor humasnya tutup setiap minggu. Bagian tengah perpustakaan adalah taman terbuka dengan meja dan rumput sintesis. Kami segera masuk ke ruang koleksi umum, Ezra mencari buku buruan kami di katalog komputer. Aku mengelilingi setiap sudut perpustakaan sambil mengagumi penataannya yang nyaman dan rapi. Pengunjung diwajibkan melepas sepatu dan memasukkannya ke dalam tas daur ulang berwarna hitam yang sudah disediakan. Kami menenteng tas itu selama di dalam ruangan. Koleksi bukunya tidak selengkap perpustakaan kota Malang.
            Pengemudi Gojek, terutama Gocar, di Yogyakarta dikendalikan oleh vendor. Aku tidak bisa mengisi saldo Gopay.

No comments:

Post a Comment