Temukan

Thursday, March 17, 2016

Cuplikan Novel 'Dandelion Lover' karya Fahrul Khakim




Diraz terhenyak kaget. Dia segera menghapus air matanya lalu menghindari tatapan Eva yang menyodorkan tisu untuknya.
“Ini tisunya, Diraz.” Eva memaksa. Diraz menerima tisu itu dengan engan. Bukan sekali ini Eva memergoki Diraz menangis. Cowok berkursi roda itu teramat terpukul sejak papa wafat. Dia sering menyalahkan dirinya sendiri.
“Kau harus pura-pura mati,Va. Seharusnya kau tak melihatku seperti ini lagi. Aku malu menangis dan lagi-lagi ketahuan olehmu,” sesal Diraz.
“Menangis atau mengekspresikan emosi itu sah-sah aja kok. Cuma kamu harus mengendalikannya, Dir. Aku mengerti perasaanmu. Tapi menyesal dan menyalahkan dirimu sendiri terus-menerus hanya akan menyakitimu.” Eva menasehati.
 Diraz tertunduk sedih.
Come on, dimana Diraz yang dulu kukenal supel dan ceria?” Eva berkelakar. “Kalau kamu butuh teman bicara, ada aku di sini. Kita sudah berteman sejak kecil. Bahkan aku tinggal bersamamu sudah sejak sangat lama. Kamu nggak sendiri, Dir.”
Diraz mengangkat wajahnya. “Ini tak semudah yang kau pikirkan, Va.”
Eva terdiam dan menatapnya dengan iba. “Bicaralah, setidaknya itu akan membuat bebanmu lebih ringan. Aku akan selalu berusaha membantumu untuk bahagia, Dir.”
“Maafkan aku, Eva. Aku akan berusaha untuk segera bangkit.”
“Bagus. Walau aku sudah mendengarnya ratusan kali.” Eva tersenyum garing. “Makan malam sudah siap. Kamu mau makan malam di kamar atau di ruang makan?”
Diraz tersenyum tipis. Seperti biasa, tiap menjelang makan malam, Eva akan bertandang ke kamarnya untuk menanyai keinginannya makan malam seperti apa. Biasanya itu atas inisiatif  Bi Lilis atau bahkan Eva sendiri. Diraz bersyukur sejak kecil Bi Lilis dan Pak Nurdin setia membantu pekerjaan di rumahnya. Almarhum orang tua Diraz sangat sayang pada mereka, bahkan mengizinkan Eva tinggal di rumah mereka dan disekolahkan. Mama Diraz wafat karena sakit saat mereka SD. Meninggalnya Papa Diraz adalah kenangan penuh penyesalan dalam hidup Diraz. Eva sendiri ngeri mengingatnya.
“Aku mau makan malam di ruang makan saja, bareng kalian. Tapi kamu harus dihukum dulu karena masuk kamarku tanpa ketuk pintu. Hukumannya pura-pura mati.”
“Oke. Berapa menit?” Eva sudah hapal tabiat Diraz.
“Lima menit.”
“Lama banget. Makanannya keburu dingin”
“Buruan kalau gitu, biar hukumannya cepat selesai.”
Eva mendengus sebal lalu duduk di sofa kamar Diraz. Pura-pura mati berarti Eva dilarang bergerak, memejamkan mata, bahkan bernapas pun tidak boleh keras-keras. Harus semirip mungkin dengan orang mati. Jika masih belum mirip, maka waktu hukuman diperpanjang sampai benar-benar mirip. Permainan ini sering mereka mainkan sejak SMP dulu.
Diraz mengambil kuas dan cat air hitam yang ada di mejanya. Dia tahu Eva pasti akan tertidur karena cewek itu sangat mudah mengantuk. Ternyata benar. Baru semenit berlalu, Eva sudah tertidur. Diraz terkikik geli dengan rencana jailnya. Dia memajukan kursi rodanya sampai mendekati Eva lalu menorehkan kuas ke pipi Eva. Setelah itu, dia menyimpan kuas dan catnya ke laci meja.
“Va, bangun!” Diraz menepuk-nepuk lengan Eva.
Eva menggeliat lalu melepaskan kaca matanya. Matanya mengerjap-ngerjap sebentar. Dia baru sadar ternyata dia ketiduran. “Maaf, aku capek banget. Tugas sekolah hari ini banyak. Udah berapa lama aku tertidur?” tanya Eva.
“Sebentar kok. Yuk, kita makan. Lapar nih.” ajak Diraz.
“Oke.” Eva lalu mendorong kursi roda Diraz menuju ke ruang makan di dekat dapur.
Diraz tersenyum menahan tawa.
Bi Lilis terbelalak kaget melihat wajah Eva yang belang-belang.
“Eva, kamu salah pakai bedak ya?” Bi Lilis, ibunya bertanya.
Eva tercenung heran. “Bedak? Aku nggak pakai apa-apa kok.”
“Terus kenapa mukamu jadi belang-belang gitu?” Bi Lilis bertanya, semakin heran.
“Belang?” Eva semakin tak mengerti.
Pak Nurdin yang baru saja masuk daput terperanjat melihat wajah Eva yang seperti peranakan Siluman Zebra.
“Eva, mukamu kenapa? Cepat lihat ke cermin, gih!” pinta Pak Nurdin, ayah Eva, dengan cemas.
Buru-buru Eva meninggalkan Diraz dan berlari ke kamar mandi.
“Aaaarrrrgghhh! Mukaku.” pekik Eva dari kamar mandi, kalang kabut. “Diraaaazzzz! Dasar rese!” teriaknya, kesal.
“Hahahaha. Peace deh! Satu kosong.” tawa Diraz pecah. Dia menatap Pak Nurdin dan Bi Lilis yang tampak bingung. “Ini cuma permainan kok. Hahaha.” jelasnya.
Pak Nurdin dan Bi Lilis mengerti tabiat Diraz dan Eva yang sudah sangat akrab itu. Kini mereka ikut tertawa.
Di kamar mandi, Eva selesai membersihkan wajahnya. Dia sudah tahu Diraz mengerjainya. Dia sengaja membiarkan Diraz melakukannya. Dia bersyukur Diraz kembali tertawa dan sedikit melupakan kesedihanannya.
#^*^#
Lima jam sebelumnya…..
Jalan Bandung, Malang, 4 Km dari Rumah May dan Oriz di Jalan Gatot Subroto,
 “Maaf, Pak, saya telat karena tadi saya harus mengerjakan PR dulu.” Jeni berkata penuh hormat sambil menunduk. Poni rambutnya menggantung cantik.
“Lain kali jika kamu telat, saya akan langsung pulang saja. Apalagi ini adalah hari pertamamu latihan. Jika kamu ingin berhasil, kamu harus pandai mengatur waktu.” tegur Pak Regar, pelatih vokal supranonya. “Ingat, harus disiplin. Ayo, kita latihan.”
“Baik, Pak. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Jeni berkata sungguh-sungguh.
“Saya taruh tas di loker dulu ya, Pak.” Jeni segera menuju loker di dekat ruang kelas.
Dia menaruh ponselnya di atas lemari loker bersamaan ketika di sampingnya seorang cowok tampan dan keren berambut cepak membuka kunci loker. Jeni hampir tak bisa mengedipkan mata karena terkagum-kagum.
“Jenifer!” suara Pak Regar terdengar tak sabar.
Jeni segera mengunci lokernya dan mengambil ponsel di atas loker dengan buru-buru.
Dia mengikuti langkah kaki Pak Regar menuju ruang latihan. Jeni les vokal privat di lembaga les vokal itu bersama Pak Regar, pelatih vokal suprano yang berkompeten di Malang. Jeni akan mengikuti lomba menyanyi beberapa bulan lagi, mewakili sekolah. Untuk itu, dia harus insten latihan mulai sekarang. Lomba itu memperebutkan trofi tingkat kabupaten dan kota Malang.
Pak Regar mengajaknya untuk latihan mengambil nada. Pak Regar hendak membuka suara tapi tiba-tiba ponsel Jeni berdering dengan nada musik rock yang keras. Jeni sangat kaget. Dia tak punya lagu seperti ini dalam ponselnya. Pak Regar memandangnya dengan tajam.
“Maaf, Pak.” Jeni segera menerogoh ponselnya di saku. Dia terperanjat saat tahu ponsel yang diambilnya tadi bukan miliknya. Dia salah ambil. Merk dan tipenya memang sama. Duh, sialnya! Jeni segera mematikan ponsel itu dengan gugup. Biarlah nanti dia urusi tragedi ponsel ini. Banyak ulahnya yang sudah cukup menguji kesabaran Pak Regar hari ini. Benar-benar kesan hari pertama yang buruk.
Jeni jadi kurang konsentrasi dalam latihan. Dia sering salah nada ketika Pak Regar melatihnya beberapa nada. Jeni menggigit bibir dengan gelisah.
“Tok… tok… tok!”
“Permisi!”
Pak Regar dan Jeni menoleh ke arah sumber suara. Tampak seorang cowok dengan wajah kesal sedang menggenggam ponsel Jeni.
“Iya, ada apa?” sahut Pak Regar, datar.
“Maaf mengganggu, Pak. Saya mau ketemu Jenifer. Ponsel kami tertukar saat di loker tadi. Apakah bapak mengizinkan?” tanya cowok berwajah oval itu.
Jeni bergidik, antara ngeri dan menyesal.
“Oke, silahkan.” Pak Regar mengizinkan.
Jeni segera menghampiri cowok itu dengan wajah semerah ceri karena begitu malu.
“Maaf, aku tak sengaja membawa ponselmu. Aku buru-buru tadi.” Jeni menyodorkan ponsel milik cowok itu dengan menyesal.
“Lain kali, hati-hati.” ketus cowok itu, sambil menyerahkan ponsel Jeni. Cowok itu menatap Jeni tajam, membuat Jeni semakin gugup dan takut. “Jangan ambil ponsel orang sembarangan. Ini bisa masuk tindakan kriminal.” sambungnya, culas.
Jeni semakin merasa bersalah dan menundukkan kepalanya. Dua kesan pertama yang sangat buruk. Pertama, pada Pak Regar. Kedua, pada cowok keren ini. Waduh, padahal Jeni ingin banget kenalan sama dia.
“Sudah, Pak. Terima kasih.Permisi.” pamit cowok itu.
Jeni hanya mampu melirik sekilas. Dia menggugurkan niatnya untuk berkenalan. Ini saat yang buruk. Dia harus memperbaiki citranya dulu sebelum berkenalan dengannya. Jeni memandang kepergian cowok itu sambil terpesona. Dia merasa familiar dengan wajahnya. Jeni yakin dia mengenali cowok berwajah oval itu.
“Jeni, buat apa lagi kamu berdiri mematung di situ?” tegur Pak Regar. Sepertinya beliau marah.
“Iya, Pak. Iya, maaf.” Jeni jadi panik sendiri dan segera melangkah ke hadapan Pak Regar. Aduh! Sial.
#^*^#
Di atas kursi rodanya, Diraz duduk dan membelai-belai foto Papa-Mama dengan perasaan terluka. Rasa bersalah masih membanjiri lubuk hatinya sejak kepergian orang tuanya. Penyesalan terbesarnya adalah pada saat papa wafat tiga tahun lalu.
           Maafkan Diraz, Papa-Mama. Diraz berkata dalam hati. Dia sangat merindukan almarhum kedua orang tuanya. Kepedihan di dadanya menumpuk. Dia ingin kembali ke masa itu dan memperbaiki semuanya, terutama kesalahannya pada almarhum Papa.
           Tapi semua sudah terlambat. Kakinya lumpuh. Dia hanya bisa bergantung pada kursi roda dan bantuan para pembantunya.
           Diraz meletakkan foto itu di samping sebuah toples kaca berisi bunga dandelion kering. Toples itu mengingatkannya pada seorang gadis yang pernah dicintainya saat SMP dulu. Diraz merindukannya tiba-tiba. Dia berdoa semoga bisa bertemu dengannya lagi.
           “Diraz, aku sudah beli peralatan melukis untukmu. Ini aku juga belikan beberapa buku pesananmu. Kembaliannya aku pakai buat nyewa film terbaru. Kamu nggak keberatan kan?” Suara cempreng itu tiba-tiba membahana di kamarnya.
           Eva datang sambil menenteng beberapa plastik belanjaan. Gadis berambut itu ikal sebahu itu sangat setia menemani Diraz. Dialah yang selalu berusaha menghibur Diraz selama ini. Namun soal perasaan, dia sangat tertutup pada Diraz. Persahabatan mereka sangat akrab dan erat. Diraz begitu sulit membedakan perasaan yang ada dalam hatinya untuk Eva.
           “Tet tet teteeeeeettt! Tebak film apa yang kusewa barusan?” Eva berkata dengan penuh semangat.
           “Yang jelas bukan Final Destination kan? Kamu kan fobia darah.” sahut Diraz, asal.
           How to Train Your Dragon 2. Kamu pasti belum nonton kan?”
           “Sudah.” Diraz tersenyum jail. “Tapi dalam angan-angan.”
           Mereka lalu tertawa bersama. Diraz bersyukur Eva selalu ada untuknya. Diraz sendiri seolah menganggap Eva sebagai saudara sendiri. Mereka tinggal serumah sejak keduanya masuk SD. Papa dan Mama mempekerjakan bapak dan ibu Eva di rumah Diraz sejak kedua Diraz SD. Bersamaan saat itu, Eva juga masuk dalam kehidupan Diraz. Kedua ortu Eva adalah keluarga yang sangat sederhana. Mereka bahkan kesulitan untuk menyekolahkan Eva. Kakek Diraz pernah berteman dengan kakek Eva sehingga Ortu Diraz percaya untuk mempekerjakan ortu Eva. Rumah Diraz yang besar dan luas dirawat dengan telaten oleh kedua orang tua Eva setiap hari. Bahkan Eva juga tak pernah malu membantu ibunya mengepel rumah Diraz. Ortu Diraz  sudah berjanji akan menyekolahkan Eva sampai jenjang tertinggi karena mereka melihat potensi kecerdasan Eva sejak sekolah dasar.
           Diraz tahu Eva selalu tulus bersahabat dengannya. Bahkan saat kini kondisinya sudah berubah. Sekarang Diraz lumpuh, tapi Eva justru menguatkannya. Walau Diraz sering mengecewakan Eva karena Diraz belum mau melakukan terapi ke Singapura untuk kesembuhannya. Diraz masih menyesal karena kepergian papanya akibat ulahnya tiga tahun yang lalu.
#^*^#
           Sehabis latihan band, Alfin segera menuju ke tempat rahasia. Dia ingin melepaskan segenap penat dan rindu pada masa lalu sambil menatap matahari yang tergelincir jadi senja di langit. Alfin duduk di kursi, merasakan hembusan angin yang lembut.
           Dia menatap foto kakak dan ibunya, juga foto saat keluarganya masih utuh. Danau-danau kesedihan di matanya mulai penuh. Namun dia tak akan menangis. Tak akan pernah. Dia harus kuat. Masih ada harapan. Selalu.
           Dia sangat menyesalkan perceraian kedua orang tuanya dulu. Dia ingin keluarganya kembali utuh. Tapi rasanya itu sangat sulit, atau bahkan mustahil. Keluarganya berantakan. Sementara papa sangat tertutup dan sibuk dengan pekerjaannya. Alfin bisa saja jadi anak nakal tapi dia selalu teringat ibunya. Dia sedih dan takut ibu kecewa jika dia melampiaskan dendamnya di jalan yang salah. Alfin bertekad ingin membuktikan pada ayahnya bahwa dia bisa berprestasi di dunia musik, terutama band.
           Dia membayangkan selembar kertas origami yang ada di tangannya adalah sebuah harapan, lalu dia melipat kertas itu menjadi sebentuk bangau. Bangau kertas harapan. Dia menitipkan harapan itu pada sayap bangau kertas melalui tulisan:

           27/2: Keluarga yang utuh dan bahagia

           Dia memasukkan bangau kertas itu bersama ratusan bangau kertas yang lain yang ada di dalam kardus. Dia berharap bisa bertemu dengan ibunya lagi. Tapi papa belum mengizinkan dia bertemu dengan ibu dan kakaknya. Tampaknya papa sedang merahasiakan sesuatu.
           Perut Alfin mendadak lapar. Dia ingat di dalam tasnya ada sekotak brownies. Alfin ingat itu pemberian cewek yang kemarin salah mengambil ponselnya. Alfin memakan brownies itu sambil mengingat tragedi lucu itu. Dia tersenyum kecil. Sejam yang lalu di tempat kursus vokal, gadis itu tampaknya begitu takut dan malu bahkan saat tadi dia mengucapkan permohonan maaf. Dia sampai membawa sekotak brownies juga untuk menebus kesalahannya itu.
Alfin menerima brownies itu untuk menghargai usaha gadis itu. Dia merasa gadis itu benar-benar berusaha minta maaf dengan tulus. Lagipula brownies adalah kue favorit Alfin.
Namanya Jeni ya? Dia lucu juga. Tapi bagi Alfin, dia tak ada bedanya dengan cewek-cewek mata keranjang lainnya. Cewek yang melihatnya karena terpesona penampilannya. Cewek yang suka curi-curi perhatiannya dengan memberinya kado atau hadiah. Alfin bosan dan malas menanggapi cewek seperti itu. Baginya tak ada perempuan sebaik ibu dan kakaknya.
Kakaknya yang mengejarinya origami sejak kecil. Tapi Alfin masih mencari satu gadis baik hati yang pernah menolongnya saat kecil. Dia menerogoh sakunya lalu mengeluarkan sebuah jepit rambut bermotif bunga dandelion. Benda kecil itu sudah belasan tahun disimpannya, tapi Alfin belum menemukan satu pun cara untuk mengembalikan pada pemiliknya. Bahkan namanya saja Alfin tak tahu.
#^*^#
Oriz tersenyum melihat May berjalan bersama teman-temannya keluar gerbang sekolah. Ingin sekali rasanya Oriz mengajak May pulang bersama. Namun, May adalah pacar sahabatnya, Irgan. Tentu Irgan akan curiga jika dia memaksa May pulang bersamanya walau mereka bertetangga. Segenap rindu menumpuk di dadanya. Di daerah perumahannya, di tepi jalan Oriz melihat beberapa bunga dandelion tampak mekar. Oriz berhenti di tepi jalan.
Dia memetik setangkai bunga dandelion itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Dia tersenyum sekilas sebelum melanjutkan perjalanannya pulang. Sesampainya di rumah, Oriz segera menuju ke kamarnya lalu mengambil toples kaca di atas lemarinya. Dia membuka toples itu lalu memasukkan setangkai bunga dandelion ke dalamnya. Bunga dandelion itu disambut oleh banyak dandelion yang sudah memenuhi separuh volume toples itu.
Oriz menutupnya rapat-rapatnya. Lalu bergumam lirih, “Satu lagi rasaku untukmu, Ratu Dandelion. Aku harap kesempatan untuk menyatakan rasa ini padamu masih ada.”
Dia mengembalikan toples dandelion itu ke tempat semula. Buru-buru dia ke ruang tamu lalu membuka gorden. Terlihat May baru saja sampai di depan rumah sepulang sekolah. Rambut sepunggung May yang dikuncir kuda bergoyang pelan. Membuatnya semakin terlihat memesona di mata Oriz.
“Ratu dandelionku, lihatlah aku di sini.” lirih Oriz. May menoleh ke arah rumah Oriz. Oriz berdecak kaget. Dia begitu gugup karena kata-katanya barusan seolah didengar May.
Tapi May segera masuk ke dalam lalu menutup pintu rapat-rapat. Oriz mendesah lega.



No comments:

Post a Comment