Temukan

Friday, September 11, 2015

Edukasi Dini Gempa Bumi

Oleh: M. Nurfahrul L. K.
(Mahasiswa Universitas Negeri Malang)
 
Artikel ini dimuat koran Surya, 29 Juli 2015
            Kemarin minggu ketika gempa bumi melanda Malang dan sekitarnya, saya sedang berlibur di rumah nenek. Saya sedang bersantai di depan TV ketika gempa terjadi. Saya sempat terkejut ketika merasakan jendela dan lemari di rumah tiba-tiba berderak-derak. Saya yang kaget langsung menyadari bahwa itu gempa bumi. Saya segera berlari ke dapur untuk memperingatkan nenek. Saya berteriak bahwa ada gempa tetapi nenek saya berjalan dengan santai menuju keluar rumah. Ketika gempa selesai, beliau mengira penyakit darah rendahnya kambuh sehingga pandangannya bergoyang-goyang. Barulah beliau yakin setelah saya jelaskan itu gempa bumi.
            Situasi kemudian berjalan normal. Gempa yang kami rasakan di Malang ini seolah keberlanjutan dari gempa di Cimahi yang terjadi tempo hari sebelumnya. Saya khawatir masih ada gempa susulan. Saya pikir mulai saat ini edukasi serta pengenalan mitigasi bencana harus digalakkan lagi di masyarakat. Apalagi Indonesia secara geografis terletak di daerah rawan gempa karena pertemuan lempeng Australia dan Asia. Masyarakat harus selalu waspada dan memperbaharui informasi mengenai gempa bumi demi menjaga keamanan dan keselamatan bersama. Apalagi bencana gempa bumi tidak bisa diprediksi secara pasti.

dimuat Koran Surya: Rabu, 28 Juli 2015

2 comments:

  1. Mitigasi? Mengurangi? Meredakan? @_@ *ap bisa manusia mengurangi gempa? *ciyus nanya konteks "mitigasi" nih...


    Uh, disaster awareness-ku juga kurang .__. Termakan sugesti kalau Malang kota pasti akan baik2 aja (kalaupun ada gempa biasanya yg kena parah itu Malang Selatan)


    ...uh...

    ReplyDelete
  2. Maksudnya mengurangi korban dan kepanikan. Ya, disaster awareness-nya kurang. Makanya perlu ditingkatkan :)

    ReplyDelete