Temukan

Jumat, 27 April 2012

Mengkisahi kisah, dikisahi kisah

Oleh: Fahrul Khakim
Sejarah melekat erat di berbagai elemen kehidupan. Disadari atau tidak, semua orang butuh Sejarah dan sangat erat hubungannya dengan Sejarah. Sejarah bukan sekedar periodisasi, tapi juga berkisah melalui sumber-sumber bukti nyata. Bahkan proporsi isi kisah dalam sejarah lebih detail dan kompleks. Dalam ilmu Sejarah, dikenal 3 unsur utama yang membentuk sejarah yaitu tempat, waktu dan manusia. Nah, kalau begitu apa bedanya Sejarah dengan sebuah kisah? Karena dalam suatu kisah pasti terdapat setting (latar), alur dan tokoh. Karena hal tersebut juga unsur-unsur penting dalam suatu cerita. Kehidupan manusia adalah kisah yang terpusat pada pikiran dan perbuatannya. Bahkan tak diragukan lagi, nasib dunia ada di tangan manusia. Sebuah kisah kadang disepelekan padahal memiliki makna yang berlapais-lapis. Tergantung lewat perspektif mana manusia itu sendiri memandangnya. Bukankah mayoritas isi kitab suci adalah kisah? Kisah antara hal baik dan jahat. Kisah yang patut diteladani serta diresapi oleh tiap insan di dunia, tak sekedar dibaca. Namun juga mendalami pesan yang disampaikan dalam kisah tersebut. Kebiasaan membaca yang baik menurut banyak penelitian dapat meningkatkan kecerdasan otak. Bukan anggapan yang salah jika membaca kitab suci pun bisa meningkatkan kecerdasan umat beragama. Mengapa manusia butuh membaca kisah? Kisah adalah sesuatu yang sangat sederhana namun memiliki dampak yang besar bagi jiwa manusia karena begitu mudah menyentuh hati manusia. Di antara genre yang lainnya, genre kisah / cerita merupakan genre yang paling digemari. Membaca kisah tak perlu menuntut otak manusia untuk berpikir keras, namun sangat mudah meresap dalam hati dan perasaan manusia. Kisah tak ubahnya napas yang dihembuskan manusia setiap hari. Selalu ada dan tak pernah ada habisnya. Perlu disyukuri bahwa kisah adalah karunia Tuhan yang terus berkembang melintasi zaman ke zaman. Namun pada intinya sebuah kisah kadang memiliki pola dan pesan yang sama. Ada-ada saja sisi kreatif manusia yang meracik kisah tersebut dengan tampilan atau pemaknaan yang sedikit berbeda. Pada hakekatnya otak manusia juga terbatas. Terkadang kisah dalam sejarah terkesan tidak relevan dengan kenyataan masa kini. Ada efek hiperbola dan fantasi dalam cerita sejarah, terkadang. Namun hal tersebut membuktikan, bahwa sejak zaman kuno dan di belahan dunia mana pun, manusia membutuhkan kisah. Karena pada dasarnya, kisah pasti (dan akan selalu begitu) ada di dalam diri manusia. Jati diri manusia dibentuk oleh proses pergulatan kisah yang panjang. Terdapat pihak yang menerima bahwa kisah-kisah itu ada merupakan hikmah dari Tuhan yang maha kuasa. Namun juga sangat konyol menilik banyak orang yang langsung merasa jijik mendengar atau membaca suatu kisah. Mereka beranggapan sebuah kisah hanya untuk sebuah hiburan semata (stensilan) bahkan terkadang itu hanya hasil orang-orang pemalas yang suka melamun serta bukan agen pembaharu masyarakat. Tidak memberi kontribusi yang berarti. Lantas pernahkah seseorang itu berpikir bahwa sebuah kisah selalu dijadikan senjata politik yang sangat ampuh untuk mengendalikan negara? Tengoklah rezim-rezim yang telah lalu. Begitu banyak kejanggalan yang mengerikan, namun dengan memesonanya para petinggi politik berhasil menyusun sebuah drama untuk menutupi segala ketimpangan tersebut. Para politisi merupakan pengarang yang cerdas, padahal mereka adalah orang yang menjunjung tinggi materialitas. Hal tersebut masih berlangsung hingga saat ini. Tengoklah berita yang beredar di berbagai media massa. Satu kisah pengadilan terkadang tak pernah usai dibahas malah disusul cerita menghebohkan lainnya seperti penemuan berbagai gunung priamida di Indonesia. Manusia realistis dan liberal pun tanpa mereka sadari telah menjadi budak-budak kisah. Manusia sebaiknya memandang dari perspektif serta berpikir dekonstruktif dalam mengkaji suatu kisah. Sejak kecil manusia telah dibimbing melalui kisah-kisah teladan seperti kisah nabi, pahlawan bahkan negeri dongeng pengantar pintu mimpi. Mereka kerap menyerap kisah-kisah tersebut dalam sanubari mereka untuk mencari kebenaran dan keburukan. Normal dan wajar, di masa kecil, manusia mendengar kisah-kisah tentang leluhur mereka. Hal tersebut dilakukan oleh orang tua mereka agar mereka bisa memperoleh pesan hidup dan pengetahuan. Kemudian mereka akan menjadikannya pedoman hidup. Begitulah secara terus-menerus, berakumulasi, hingga mereka dewasa. Mereka akan membawa kisah itu dan disadari atau tidak, kisah tersebut juga akan mempengaruhi kehidupan manusia di masa depan. Lalu kala mereka menginjak masa senja, kisah tersebut akan kembali dikisahkan pada penerusnya mereka. Penerus mereka akan mengkisahkannya pada keturunan mereka. Begitu seterusnya, siklus tersebut alamiah. Sebuah kisah selayaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Tidak sekedar dipandang sebelah mata. Bahasa adalah kekuatan sebuah kisah, tak mungkin di abad serba cyber seperti saat ini manusia menggunakan bahasa yang biasa. Oleh karena itu, manusia memeras otaknya untuk merangkai kalimat-kalimat menjadi literasi yang indah. Namun hal tersebut kadang juga disalahartikan oleh manusia lain, menganggap bahasa yang indah hanya sekedar laratan hati manusia yang kurang kerjaan. Sebuah kisah adalah berkah yang ajaib. Wahyu Tuhan yang mulia. Tanpa sebuah kisah, tulisan ini tak akan sampai di depan mata anda. Tanpa kisah hari ini, entah ada dimana kita nanti.
 -Terinspirasi dari salah satu kisah dalam buku 366 Reflection of Life karya Sidik Nugroho

Tidak ada komentar:

Posting Komentar